Jump directly to the content

Realita.co adalah news online yang menyuguhkan berita-berita yang aktual dan terpercaya. Berita yang berasal meliputi peristiwa lokal, regional, nasional hingga internasional. Semuanya disajikan cepat, akurat, menarik dan mendalam.

Realita

Your Sun

Boks Redaksi

Khusus untuk berita indepth news maupun investigasi, kami menyajikannya secara integral, proporsional, cover both side, independen dan obyektif. Di bawah bendera PT. Realita Aktual Terpercaya, kami berusaha memenuhi tuntutan informasi masyarakat modern yang serba cepat dan instan. Di era digital seperti saat ini, kami yakin bahwa kehadiran kami akan bisa mewarnai khasanah dunia media yang sangat kompetitif.

Kami sadar bahwa kami adalah pendatang baru dalam dunia media (online), karena kami baru berdiri di medio tahun 2014. Untuk itu, kami menerima masukan dan kritik dari pembaca maupun narasumber. Baik berupa komentar di website kami, di media sosial dan email hingga hak jawab. Berikut ini  anggota redaksi kami yang siap memberikan yang terbaik bagi pembaca dan nara sumber: 


Penanggungjawab: Hadi Sucipto. |Pimpinan Redaksi: Antonius Suhendri. |Redaktur : Buyung Budiono, Agum Gumerlam |Editor: Adi Wicaksono. |

Reporter: Ahmad Zainy W, Budi Prasetyo, Yudik Syahputra, Adi Wardhono, Novi Ispinari, Achmad Ali, Heri Darmawan, Beby Siahaya, M Adi S, Kurniawan, Andik Kartika, Mohammad Habibudin, Hari Kristanto, Rionaldi, Rossy, Indra Habib Purwanto, Muhamad Amin, Arifin, Ika Roosmala, Endri Soedarto, Gomes Roberto, Willy, Mochammad Rizky, Herry Irawan, SH.

Teknologi Informasi: Badrul Djazuli. |Design Layout: Tony Basuki, Ibnu Mas’ud | Marketing: Totok Handoko. |Bendahara : Wiwik Winanti Ningsih.

Boks Redaksi
TOP
ECPAT dan Kejaksaan

MoU Eploitasi Seksual Anak

JAKARTA (Realita)- Kasus eksploitasi seksual anak masih banyak terjadi di Indonesia.

Penandatanganan MoU antara Kejaksaan Agung dengan ECPAT Indonesia, Selasa (7/8/2018).

UNICEF Indonesia menyatakan bahwa terdapat 40.000 hingga 70.000 anak di Indonesia telah menjadi korban eksploitasi seksual anak setiap tahunnya. Tak hanya itu, berdasarkan penelitian ILO soal pelacuran anak di beberapa kota di Indonesia mendapatkan fakta dan menemukan ada sekitar 24 ribu anak anak dilacurkan.

Selain itu, berdasarkan laporan yang diterima Komnas Anak pada tahun 2010 hingga 2014 didominasi oleh kejahatan seksual yakni 42 hingga 62 persen. Sedangkan hasil pemantauan ECPAT Indonesia sejak September hingga November 2016 ditemukan 24 kasus eksploitasi seksual anak dengan jumlah korban sebanyak 335 dengan prensetasi 55 persen anak perempuan dan 45 persen anak laki laki.

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan dimana anak anak yang notabanenya sebagai penerus bangsa ini, akan tetapi menjadi korban eksploitasi seksual oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Untuk mencegah makin masifnya tindak pidana terhadap anak, ECPAT Indonesia melakukan penandatangan perjanjian kerjasama dengan Badan Diklat Kejaksaan RI dalam kontek meningkatkan peran jaksa dalam menuntut pelaku tindak pidana eksploitasi seksual anak.

Koordinator Nasional ECPAT Indonesia, Ahmad Sofian mengatakan eksploitasi seksual anak semakin meningkat seiring dengan makin canggih dan maraknya penggunaan teknologi. Konten pornografi semakin banyak yang beredar. Predator anak pun semakin mudah mencari dan menggunakan berbagai cara untuk mengelabui dan mengeksploitasi anak secara seksual.

"Sayangnya, kapasitas dan kapabilitas penegak hukum di Indonesia dalam menghadapi anak anak yang berhadapan dengan hukum dalam isu ini perlu ditingkatkan," katanya dalam sambutanya saat melakukan kerjasama dengan Badiklat Kejaksaan RI, di Badiklat RI, Jakarta, Selasa (07/08).

Menurutnya, kejaksaan yang memiliki peran dan posisi strategis dalam menangani kasus kasus eksploitasi seksual anak. Dari kasus kasus kasus eksploitasi anak yang ditangani ECPAT Indonesia ditemukan masih banyak evaluasi yang harus dibenahi baik dalam proses, prosedur bahkan keputusan pengadilan.  Masih banyak proses dan prosedur yang tidak berpihak pada korban, keluarga korban serta masyarakat.

"Ketidak berpihakan itu yakni penegak hukum yang tidak maksimal dalam penanganan perkara eksploitasi anak, " tegasnya.

Maka dari itu, kata Ahmad, ECPAT Indonesia  berinisiatif menjalin kerjasama dengan Badan Diklat Kejaksaan RI untuk memberantas tindak pidana ekploitasi seksual anak. "Ini bentuk komitmen kita, kedepan nantinya akan dilakukan pelatihan khusus jaksa yang menangani kasus anak, meningkatkan pemahaman dan kapasitas jaksa dalam melakukan penuntutan terhadap pelaku ekaploitasi anak, " tutupnya.

Sementara, Kepala Badan Diklat Kejaksaan RI, Setya Untung Arimuladi mengatakan perjanjian kerjasama ini merupakan langkah awal ending the sexual exploitation of children (ECPAT Indonesia), yang merupakan jaringan nasional penghapusan bentuk-bentuk eksploitasi seksual komersial anak meliputi prostitusi anak, perdagangan anak untuk tujuan seksual, pornografi anak, perkawinan anak dan pariwisata anak yang merupakan afiliasi dari ECPAT internasional.

"Tujuan diadakan perjanjian kerjasama ini meningkatkan hubungan kerjasama dalam penanganan bagi korban eksploitasi seskual anak dalam tahap penyelidikan dan penyidikan," katanya.

Selain itu, kata Untung, juga memberikan informasi perkembangan terbaru terkait modus ekploitasi seksual dan komersial anak bagi para jaksa dan mendorong Badiklat Kejaksaan RI melakukan program khusus terkait eksploitasi seksual komersial anak.

"Ini juga untuk meningkatkan kapasitas jaksa, khususnya jaksa anak dalam menangani kasus terkait eksploitasi seksual," jelasnya.

Perjanjian kerjasama ini, lanjut Untung, dilaksankan selama dua tahun dengan fokus kegiatan fokus utama kegiatan training ditahun 2018. Program inj merupakan salah satu dari program down to zero yang fokus pada kolaborasi dengan aparat penegak hukum. "Jaksa yang menjadi aktor dalam target kerja dari down to zero di 11 negara ataa dukungan kementrian luar negeri Belanda," tutupnya. hrd

 

Berita Hukum Lainnya