Jump directly to the content

Realita.co adalah news online yang menyuguhkan berita-berita yang aktual dan terpercaya. Berita yang berasal meliputi peristiwa lokal, regional, nasional hingga internasional. Semuanya disajikan cepat, akurat, menarik dan mendalam.

Follow The Sun

Your Sun

Boks Redaksi

Khusus untuk berita indepth news maupun investigasi, kami menyajikannya secara integral, proporsional, cover both side, independen dan obyektif. Di bawah bendera PT. Realita Aktual Terpercaya, kami berusaha memenuhi tuntutan informasi masyarakat modern yang serba cepat dan instan. Di era digital seperti saat ini, kami yakin bahwa kehadiran kami akan bisa mewarnai khasanah dunia media yang sangat kompetitif.

Kami sadar bahwa kami adalah pendatang baru dalam dunia media (online), karena kami baru berdiri di medio tahun 2014. Untuk itu, kami menerima masukan dan kritik dari pembaca maupun narasumber. Baik berupa komentar di website kami, di media sosial dan email hingga hak jawab. Berikut ini  anggota redaksi kami yang siap memberikan yang terbaik bagi pembaca dan nara sumber: 


Penanggungjawab: Hadi Sucipto. |Pimpinan Redaksi: Antonius Suhendri. |Redaktur : Buyung Budiono, Agum Gumerlam |Editor: Adi Wicaksono. |

Reporter: Ahmad Zainy W, Budi Prasetyo, Yudik Syahputra, Adi Wardhono, Novi Ispinari, Achmad Ali, Heri Darmawan, Beby Siahaya, M Adi S, Kurniawan, Andik Kartika, Mohammad Habibudin, Hari Kristanto, Rionaldi, Rossy, Indra Habib Purwanto.

Teknologi Informasi: Badrul Djazuli. |Design Layout: Aries Nasrudin, Ibnu Mas’ud | Marketing: Totok Handoko. |Bendahara : Wiwik Winanti Ningsih.

Boks Redaksi
TOP
Jatah Hidup Mandek,

Pengungsi Syiah Kesulitan Makan

SIDOARJO (Realita)- Mudawi (46), pengungsi syiah asal Dusun Gadung Lauk, Desa Belu Urang kec.

Anak-anak para pengungsi Syiah yang bermain-main di area parkir, Jumat (21/4).

Karangpenang, Kabupaten Sampang yang tinggal di Rusun Jemundo mengaku kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain menganggur, Jatah Hidup (Hidup) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur sebesar Rp 709 ribu sudah tiga bulan mandek.

"Kalau ada uang ya makan, kalau tidak ada ya terpaksa puasa," katanya ketika ditemui dilokasi pada Jumat (21/4). Sejak Februari 2017, dia bersama warga syiah lainnya sudah tidak mendapatkan Jadup dari Pemprov Jatim. Untuk makan sehari-hari, dia terpaksa mencari pinjaman dan mengharapkan bantuan dari keluarganya yang ada di Madura.

"Kalau terpaksa ya akhirnya ngutang, itupun nggak banyak hanya 100 ribu saja khawatir nggak bisa bayar," tambah bapak tiga anak itu. Sebenarnya, beberapa waktu lalu, dirinya cukup terbantu karena bisa bekerja sebagai pengupas kelapa di pasar Puspa Agro. Dalam sehari, kadang mendapatkan upah Rp 40 ribu untuk setiap kuintal kelapa yang dikupasnya.

"Tapi akhir akhir ini sudah berbulan bulan sepi jadi nganggur, kadang seminggu ada sekali. Kadang berbulan bulan nggak ada lagi," tandasnya. Karena merasa frustasi, beberapa bulan lalu,  Mudawi dan keluarganya nekat keluar dari Rusun dan kembali ke kampung halamannya. Sayangnya, upaya itu gagal, karena dia bersama keluarganya dikembalikan lagi ke Rusun. "Malam sampai rumah mertua, paginya langsung dijemput katanya disuruh balik lagi gak boleh disana," jelasnya.   

Setiap hari, Mudawi mengaku selalu meratapi nasibnya yang tak kunjung membaik. Dia membayangkan, masa masa ketika hidup berkecukupan di kampung halamannya dulu. "Kalau saya inginnya pulang kampung saja bertani di rumah. Disini nganggur terus, setiap pagi, siang sampai sore kerjanya ya duduk duduk saja," tandasnya.    

Mudari dan warga syiah lainnya diusir dari kampung halamannya pada tahun 2011. Dia meninggalkan rumah dan dua hektar lahan yang digarapnya selama bertahun tahun."Kalau dulu setiap panen selalu pegang uang. Bisa dapat 50 karung padi setiap panen," jelasnya.pras             

 

Berita Nasional Lainnya