Jump directly to the content

Realita.co adalah news online yang menyuguhkan berita-berita yang aktual dan terpercaya. Berita yang berasal meliputi peristiwa lokal, regional, nasional hingga internasional. Semuanya disajikan cepat, akurat, menarik dan mendalam.

Follow The Sun

Your Sun

Boks Redaksi

Khusus untuk berita indepth news maupun investigasi, kami menyajikannya secara integral, proporsional, cover both side, independen dan obyektif. Di bawah bendera PT. Realita Aktual Terpercaya, kami berusaha memenuhi tuntutan informasi masyarakat modern yang serba cepat dan instan. Di era digital seperti saat ini, kami yakin bahwa kehadiran kami akan bisa mewarnai khasanah dunia media yang sangat kompetitif.

Kami sadar bahwa kami adalah pendatang baru dalam dunia media (online), karena kami baru berdiri di medio tahun 2014. Untuk itu, kami menerima masukan dan kritik dari pembaca maupun narasumber. Baik berupa komentar di website kami, di media sosial dan email hingga hak jawab. Berikut ini  anggota redaksi kami yang siap memberikan yang terbaik bagi pembaca dan nara sumber: 


Penanggungjawab: Hadi Sucipto. |Pimpinan Redaksi: Antonius Suhendri. |Redaktur : Buyung Budiono, Agum Gumerlam |Editor: Adi Wicaksono. |

Reporter: Ahmad Zainy W, Budi Prasetyo, Yudik Syahputra, Adi Wardhono, Novi Ispinari, Achmad Ali, Heri Darmawan, Beby Siahaya, M Adi S, Kurniawan, Andik Kartika, Mohammad Habibudin, Hari Kristanto, Rionaldi, Rossy, Indra Habib Purwanto.

Teknologi Informasi: Badrul Djazuli. |Design Layout: Aries Nasrudin, Ibnu Mas’ud | Marketing: Totok Handoko. |Bendahara : Wiwik Winanti Ningsih.

Boks Redaksi
TOP
Jilboobs,

Tren Berhijab sambil Pamer Payudara

SURABAYA (Realita) - Jilboobs adalah sebutan untuk menyindir wanita yang mengenakan jilbab tapi tetap berpakaian ketat hingga bentuk tubuh tercetak jelas.

Sebuah akun Facebook bernama Jilboobs Community hadir pada 25 Januari 2014. “Indahnya saling berbagi :) nb: di olah dari berbagai sumber,” demikian deskripsi tentang halaman Facebook tersebut. Hingga dibuka pada Rabu (6/8), Jilboobs Community mendapat 708 likes. Untuk pertama dan terakhir kalinya hingga kini, admin halaman tersebut mengunggah sebanyak 26 foto pada 29 Januari 2014. Semua foto itu ada dalam album bernama `Compilation`. Tampak mengenakan jilbab, hampir seluruh wanita di foto-foto itu memakai baju berlengan panjang. Hanya beberapa yang mengenakan baju lengan 3/4 atau bahkan lengan pendek. Yang sama dari gaya busana semua wanita berjilbab di foto-foto itu adalah ukuran pakaian yang ketat sehingga bagian boobs (payudara) wanita-wanita itu terekspos. Dari kata `Jilbab` dan `Boobs` dibuatlah akronim `Jilboobs`.

Terlihat dari komentar-komentar di halaman Jilboobs Community, `debat` yang terjadi tak bersifat simetris mengenai benar atau tidaknya apa yang dilakukan oleh para wanita di foto-foto tersebut. Beberapa komentar pengguna Facebbok memang jelas mengkritik tampilan-tampilan para `Jilboobers`. “Astagfirullah, sadar wahai saudara,” tulis pemilik akun Estri Yuna’rii. Akan tetapi sejauh ini, `tandingan` dari komentar-komentar seperti itu datang dari dimensi diskusi yang berbeda. Alih-alih membenarkan apa yang dilakukan para `Jilboobers` tersebut (yang tampaknya sulit atau bahkan mustahil untuk dibenarkan), beberapa pengguna Facebook lain tampak membawa pembaca pada wacana tentang perlu tidaknya menyorot fenomena ini.

Pemilik akun Enni Zetia menulis “Kalo gak suka yang kaya gituan ya gak usah diliat ! kalo tau kaya gituan gak bagus ya gak usah di ikutin.Ngurus diri ndiri aja ane masi kacau balau...gak sempet lah ngurusi orang laen”. Komentar yang lebih keras datang dari pemilik akun Fava N. Ulfati. Tulisnya, “Kurang Kerjaan banget melecehkan orang yg belum dikenal dan mencuri foto"nya,Gak punya hati,moral,otak,etika,hukum . . .” Komentar lain yang serupa datang dari pemilik akun Fava N. Ulfati. “...KALO EMANG NIAT BAIK BUAT SESAMA MUSLIM KAGAK USAH BIKIN FANPAGE KAYAK GNI,KALO MAU TEGUR,TEGUR AJA ORANGNYA LANGSUNG!...” demikian petikan komentarnya.

Sosiolog Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Musni Umar memandang tidak seharusnya semua orang menyalahkan para remaja yang berbusana seperti ini. Sebagai remaja, mereka seyogyanya diberikan dukungan karena telah memutuskan memakai jilbab. "Ini suatu proses yang bagus untuk anak-anak muda untuk pakai jilbab, toh berikutnya bisa diberikan kesadaran agar jangan erotis, ada proses lanjutannya," tandasnya. Dukungan tentunya sangat dibutuhkan mereka agar bersemangat dan melanjutkan niatnya untuk terus berjilbab. Jika sejak awal sudah mendapat cercaan atau kritik, bukan tidak mungkin kaum remaja putri tersebut menarik kembali niatnya. "Jangan baru apa-apa sudah cela mereka, sudah tidak memberi apresiasi pada anak-anak remaja, malah mempermalukan mereka di depan umum, kritik mereka. Ini proses perubahan sisi lama ke kehidupan baru, diberi pengertian agar tidak merangsang lawan jenis," pinta Musni. bs

 

Berita Ekonomi Bisnis Lainnya