Jump directly to the content

Realita.co adalah news online yang menyuguhkan berita-berita yang aktual dan terpercaya. Berita yang berasal meliputi peristiwa lokal, regional, nasional hingga internasional. Semuanya disajikan cepat, akurat, menarik dan mendalam.

Realita

Your Sun

Boks Redaksi

Khusus untuk berita indepth news maupun investigasi, kami menyajikannya secara integral, proporsional, cover both side, independen dan obyektif. Di bawah bendera PT. Realita Aktual Terpercaya, kami berusaha memenuhi tuntutan informasi masyarakat modern yang serba cepat dan instan. Di era digital seperti saat ini, kami yakin bahwa kehadiran kami akan bisa mewarnai khasanah dunia media yang sangat kompetitif.

Kami sadar bahwa kami adalah pendatang baru dalam dunia media (online), karena kami baru berdiri di medio tahun 2014. Untuk itu, kami menerima masukan dan kritik dari pembaca maupun narasumber. Baik berupa komentar di website kami, di media sosial dan email hingga hak jawab. Berikut ini  anggota redaksi kami yang siap memberikan yang terbaik bagi pembaca dan nara sumber: 


Penanggungjawab: Hadi Sucipto. |Pimpinan Redaksi: Antonius Suhendri. |Redaktur : Buyung Budiono, Agum Gumerlam |Editor: Adi Wicaksono. |

Reporter: Ahmad Zainy W, Budi Prasetyo, Yudik Syahputra, Adi Wardhono, Novi Ispinari, Achmad Ali, Heri Darmawan, Beby Siahaya, M Adi S, Kurniawan, Andik Kartika, Mohammad Habibudin, Hari Kristanto, Rionaldi, Rossy, Indra Habib Purwanto.

Teknologi Informasi: Badrul Djazuli. |Design Layout: Aries Nasrudin, Ibnu Mas’ud | Marketing: Totok Handoko. |Bendahara : Wiwik Winanti Ningsih.

Boks Redaksi
TOP
Nipu dengan Modus Jual Rumah,

Sarjana Hukum Diadili

SURABAYA (Realita) - Gelar sarjana hukum yang disandang oleh Herawati Diah (56), warga Jl Kedung Baruk Surabaya ini, malah mengantarkan dirinya untuk duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Surabaya, atas kasus penipuan jual beli rumah.

terdakwa Herawati Diah (tahanan kota), saat menjalani sidang di PN Surabaya.

Pada sidang yang digelar di ruang sidang Tirta Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (13/3/2018). Mengagendakan pembacaaan surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Agung Rohaniawan dari Kejaksaan Tanjung Perak.  

Dalam surat dakwaan tersebut. Menjelaskan, bahwa berawal dari saksi (korban) Andi Sinarto dihubungi oleh saksi Rahmat Hidayat yang diminta tolong terdakwa, untuk mencarikan orang yang mau membeli rumahnya. Lantas Andi Sinarto pun tertarik. Namun, saat Andi Sinarto menanyakan kebenaran informasi tersebut kepada terdakwa, malah mengelak. Dan mengatakan kalau terdakwa hanya membutuhkan pinjaman sebesar Rp.690.000.000,- guna melunasi tunggakan di Bank BRI atas sertifikat rumahnya yang dijaminkan. Andi Sinarto akhirnya membatalkan niatnya, karena informasi yang diterima tidak sesuai. 

Selanjutnya terdakwa meminta potongan pembayaran pelunasan dari Bank BRI, sehingga hutang terdakwa menjadi Rp.615.000.000,-. Selang beberapa hari, terdakwa kembali menghubungi Andi Sinarto sambil berkata. "Pak Andi, tolong bantu saya melunasi pinjaman saya di Bank. Jika sudah lunas, pak Andi beli saja rumah saya,". Mendengar pernyataan tersebut, Andi Sinarto menjadi tertarik untuk membeli rumah terdakwa di Jl Baruk Utara 13/ND-65, Kedung Baruk, Rungkut Surabaya dengan Sertifikat Hak Milik (SHM) No.1894. Dan disepakati dengan harga Rp.1.2 Miliar. 

Pada 22 Desember 2014, terdakwa dengan disaksikan dan disetujui oleh suaminya yaiti saksi Agus Supriyoso, dengan saksi Andi Sinarto. Membuat beberapa perjanjian, antaranya. Perjanjian Ikatan Jual Beli (IJB) dan kuasa jual sesuai akta nomor 205 dihadapan notaris Yatiningsih,Sh,Mh. Isi perjanjian tersebut menyatakan harga pasti dan tidak bisa diubah lagi sebesar Rp. 1,2 Miliar. Dan akta pernyataan No.206 yang berisikan bahwa saksi Andi Sinarto memberikan hak kepada terdakwa untuk membeli kembali rumah yang telah dijual kepada saksi Andi Sinarto dalam tenggang waktu 3 bulan, senilai Rp. 1.272.000.000,- terhitung mulai akta pernyataan bersama ditandatangani. Perjanjian pengosongan rumah No.206 yang berisi terdakwa selaku penjual akan menyerahkan rumah kepada saksi Andi Sinarto selaku pembeli paling lambat 31 Maret 2015.

Setelah saling sepakat, kemudian terdakwa meminta Andi Sinarto melunasi hutangnya dan dilunasi oleh Andi Sinarto. Selajutnya terdakwa meminta biaya kompensasi untuk pengosongan rumah senilai Rp.300 juta. Permintaan itu langsung ditolak oleh Andi Sinarto dengan alasan tidak ada kesepakatan sebelumnya. Lantas terdakwa mengatakan tidak akan melakukan pembelian kembali sesuai perjanjian yang disepakati. Akhirnya Andi Sinarto memberikan uang senilai Rp.393.000.000 kepada terdakwa. 300 juta untuk biaya pengosongan rumah dan 93 juta untuk pembayaran rumah.

Tak sampai di situ saja, terdakwa juga meminta uang sebesar Rp.12 juta kepada Andi Sinarto untuk membayar Rachmat Hidayat atas jasanya telah memperkenalkan terdakwa dengan Andi Sinarto. Dan pembayaran notaris sebesar 3 juta 500 ribu. Saat itu juga Andi menyanggupi permintaan terdakwa dan dibayar semuanya.

Hingga 31 Maret 2015, setekah jatuh tempo pengosongan rumah, ternyata terdakwa tidak ada niat untuk meninggalkan rumah tersebut, hingga 31 Juli 2015 terdakwa justru tidak akan pernah mengosongkan rumah tersebut, meskipun batas waktu yang telah ditetapkan sudah habis. Dan berdalih tidak pernah menjual rumah tersebut, namun hanya sebagai jaminan hutang.

Andi Sinarto sadar dirinya merasa ditipu, dan melaporkannya kepolisi. "Atas perbuatanya terdakwa didakwa Pasal 378 KUHP," kata jaksa Agung.

Sementara, Alex selaku Penasihat Hukum (PH) terdakwa menyatakan, bahwa dakwaan tersebut tidak benar dan menyatakan kasus tersebut adalah perdata. "Ini kasus hutang piutang, namun dibungkus dalam jual beli rumah. Ini perdata," ucapnya ditemui usai persidangan.ys

 

Berita Hukum Lainnya