Jump directly to the content

Realita.co adalah news online yang menyuguhkan berita-berita yang aktual dan terpercaya. Berita yang berasal meliputi peristiwa lokal, regional, nasional hingga internasional. Semuanya disajikan cepat, akurat, menarik dan mendalam.

Realita

Your Sun

Boks Redaksi

Khusus untuk berita indepth news maupun investigasi, kami menyajikannya secara integral, proporsional, cover both side, independen dan obyektif. Di bawah bendera PT. Realita Aktual Terpercaya, kami berusaha memenuhi tuntutan informasi masyarakat modern yang serba cepat dan instan. Di era digital seperti saat ini, kami yakin bahwa kehadiran kami akan bisa mewarnai khasanah dunia media yang sangat kompetitif.

Kami sadar bahwa kami adalah pendatang baru dalam dunia media (online), karena kami baru berdiri di medio tahun 2014. Untuk itu, kami menerima masukan dan kritik dari pembaca maupun narasumber. Baik berupa komentar di website kami, di media sosial dan email hingga hak jawab. Berikut ini  anggota redaksi kami yang siap memberikan yang terbaik bagi pembaca dan nara sumber: 


Penanggungjawab: Hadi Sucipto. |Pimpinan Redaksi: Antonius Suhendri. |Redaktur : Buyung Budiono, Agum Gumerlam |Editor: Adi Wicaksono. |

Reporter: Ahmad Zainy W, Budi Prasetyo, Yudik Syahputra, Adi Wardhono, Novi Ispinari, Achmad Ali, Heri Darmawan, Beby Siahaya, M Adi S, Kurniawan, Andik Kartika, Mohammad Habibudin, Hari Kristanto, Rionaldi, Rossy, Indra Habib Purwanto, Muhamad Amin, Arifin, Ika Roosmala, Endri Soedarto, Gomes Roberto, Willy, Mochammad Rizky, Herry Irawan, SH.

Teknologi Informasi: Badrul Djazuli. |Design Layout: Tony Basuki, Ibnu Mas’ud | Manajer Marketing: Yudi Gunawan. |Bendahara : Wiwik Winanti Ningsih.

Boks Redaksi
TOP
Soal Reuni 212,

Boni Hargens: Bawaslu Memalukan

JAKARTA (Realita) - Dalam sebuah pernyataan di media, Anggota Bawaslu Ratna Dewi Pettallo mengatakan, pidato imam besar FPI Rizieq Shihab dan Prabowo Subianto tidak bisa dihubungkan dengan peristiwa lain di luar Reuni 212.

Boni Hargens.

Berdasarkan pengawasan lapangan yang dilakukan Bawaslu, baik pidato Rizieq maupun Prabowo itu, tidak melanggar tahapan kampanye.

Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens mengatakan Bawaslu seperti masuk angin karena menyebut aksi Reuni 212 tak melanggar tahapan kampanye terbuka.

Bahkan, Boni menyebutkan bahwa, kesimpulan Bawaslu tersebut sangat prematur dan tidak melalui penelitian di lapangan.

"Jusrtu itu yang memalukan. Bagaimana seorang komisioner Bawalsu membuat kesimpulan berdasarkan pengamatan sekunder dari media. Ini memalukan, institusi dipermalukan," kata Boni usai diskusi bertajuk "Reuni 212 Curi Star Kampanye, Bawaslu Harus Bangun dari Tidur" di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (5/12).

Boni menilai, terkait pernyataan Bawaslu yang melalui Ratna tersebut, tidak berdasarkan kajian mendalam. Padahal, kata dia, terdapat begitu banyak pelanggaran kampanye di Aksi Reuni 212 itu.

"Padahal kami melihat ada spanduk Prabowo-Sandi di sana, ada teriakan 2019 ganti presiden, ada lagu diputar di sana, da Ustaz Tengku Zulkarnain mengkritik pemerintah Jokowi," kata Boni.

Tak hanya itu saja, selain melanggar tahapan kampanye, Reuni 212 jelas Boni, merupakan politisasi gerakan moral. Sebab ketika pertama kali muncul di akhir 2016, gerakan 212 masih memiliki dua warna yakni gerakan politik dan gerakan moral. Massa yang datang dari berbagai daerah tergerak oleh kerinduan untuk membela kesucian iman. Namun, ujar Boni, pada saat yang sama elit dari gerakan tersebut sebagiannya sudah menjadi tim sukses politik.

"Kami respek dengan nait dari semua umat yang hadir, tapi kita juga mengutuk para politisi, para pemburu rente yang menelikung niat baik itu menjadi kepentingan politik,"jelasnya.

Dengan tegas, mantan Komisaris Kantor Berita Antara itu mengatakan, apa yang disampaikan Ratna, bisa dibilang memperlihatkan keberpihakannya di Pilpres 2019. Sebab, Bawaslu kata Boni, seharusnya membuat kesimpulan berdasarkan pengamatan/penelitian yang matang.

"Nah ini kan orang yang menarik garis yang sangat jelas, oh jangan-jangan kamu (Ratna) sudah masuk angin atau kamu sudah punya parsialitas dalam berpolitik,"tutupnya. goms

 

Berita Politik Lainnya