Jump directly to the content

Realita.co adalah news online yang menyuguhkan berita-berita yang aktual dan terpercaya. Berita yang berasal meliputi peristiwa lokal, regional, nasional hingga internasional. Semuanya disajikan cepat, akurat, menarik dan mendalam.

Follow The Sun

Your Sun

Boks Redaksi

Khusus untuk berita indepth news maupun investigasi, kami menyajikannya secara integral, proporsional, cover both side, independen dan obyektif. Di bawah bendera PT. Realita Aktual Terpercaya, kami berusaha memenuhi tuntutan informasi masyarakat modern yang serba cepat dan instan. Di era digital seperti saat ini, kami yakin bahwa kehadiran kami akan bisa mewarnai khasanah dunia media yang sangat kompetitif.

Kami sadar bahwa kami adalah pendatang baru dalam dunia media (online), karena kami baru berdiri di medio tahun 2014. Untuk itu, kami menerima masukan dan kritik dari pembaca maupun narasumber. Baik berupa komentar di website kami, di media sosial dan email hingga hak jawab. Berikut ini  anggota redaksi kami yang siap memberikan yang terbaik bagi pembaca dan nara sumber: 


Penanggungjawab: Hadi Sucipto. |Pimpinan Redaksi: Antonius Suhendri. |Redaktur : Buyung Budiono, Agum Gumerlam |Editor: Adi Wicaksono. |

Reporter: Ahmad Zainy W, Budi Prasetyo, Yudik Syahputra, Adi Wardhono, Novi Ispinari, Achmad Ali, Heri Darmawan, Beby Siahaya, M Adi S, Kurniawan, Andik Kartika, Mohammad Habibudin, Hari Kristanto, Rionaldi, Rossy, Indra Habib Purwanto.

Teknologi Informasi: Badrul Djazuli. |Design Layout: Aries Nasrudin, Ibnu Mas’ud | Marketing: Totok Handoko. |Bendahara : Wiwik Winanti Ningsih.

Boks Redaksi
TOP
Untuk Tujuan Damai,

Iran Resmi Punya Nuklir

WINA (Realita) - Setelah perundingan dengan enam negara barat, dengan dipimpin Amerika Serikat, Iran Akhirnya berhasil memiliki Nuklir.

Ilustrasi penelitian Nuklir di Iran

Dalam perundingan di kota Wina Austria, Iran mengaku menggunakan kesempatan ini untuk keperluan damai. Iran dan enam negara Barat dipimpin Amerika Serikat, berhasil menuntaskan perjanjian terkait teknologi nuklir di Kota Wina, Austria, hari ini, Selasa (14/7). Iran, negara mayoritas Syiah, diizinkan memiliki teknologi nuklir untuk tujuan damai. Sanksi ekonomi yang sejak tiga tahun terakhir menimpa Negeri Para Mullah itu dicabut. "Semua kerja keras selama beberapa waktu ini terbayar sudah," kata salah satu sumber diplomat Iran yang tidak disebut namanya kepada Kantor Berita Reuters. Kepastian lebih detail terkait poin-poin negosiasi yang disetujui, akan dibacakan oleh Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif bersama Kepala Bidang Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini. Jumpa pers itu digelar di Kota Wina, Austria, sore ini. Negosiasi ini digelar antara Iran dengan enam negara berpengaruh dunia, yakni Amerika Serikat, China, Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia. Proses perundingan sempat dikhawatirkan buntu. Tapi Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, jadi pihak yang paling gigih menggelar rapat maraton bersama diplomat Iran. Perjanjian ini diklaim Presiden Barack Obama sebagai keberhasilan negaranya menjaga stabilitas Timur Tengah lewat jalan damai. Satu-satunya pihak yang tidak senang dengan kabar itu adalah Israel. Negeri Zionis ini selalu khawatir Iran diam-diam membangun rudal berhulu ledak nuklir yang bisa menjangkau negaranya. Ketika melawat ke AS dua bulan lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendesak oposisi Obama agar membatalkan perjanjian ini di masa depan. "Iran akan mendapat hadiah besar. Ini kesalahan besar sejarah," ujarnya seperti dikutip Reuters, saat berpidato di Ibu Kota Tel Aviv siang tadi waktu setempat. Merujuk naskah perjanjian awal, Iran bersedia mengurangi persediaan fasilitas pengayaan uranium hingga 98 persen. Dengan demikian, negara Syiah kaya minyak itu dipastikan tidak memiliki bahan baku senjata nuklir. Selain itu, pemerintah Iran juga bersedia diperiksa badan internasional Energi Atom (IAEA) saban tahun. Sebagai ganti atas sikap kooperatif itu, Iran tidak lagi dikenakan sanksi ekonomi, baik oleh AS, Inggris, maupun Jerman. Iran memiliki reaktor nuklir terbesar di Kota Arak, yang menurut laporan PBB sudah mampu mengurai uranium ke level 20 persen, tahap awal membuat bom. ret

 

Berita Internasional Lainnya